Rabu, 07 Mei 2014 0 komentar

Musyawarah....

قيل: [الناس] رجل [تام] ونصف رجل، ولا شيئ فالرجل: من له رأي صائب ويشاور العقلاء، ونصف رجل: من له رأي صائب لكن لا يشاور، أو يشاور ولكن لا رأي له، ولا شيئ: من لا رأي له ولا يشاور. وقال جعفر الصادق لسفيان الثورى: شاور فى أمرك الذين يخشون الله تعالى
    Ali ra berkata : "Tiada seorangpun yang rusak karena musyawarah", Ada dikatakan : "Satu orang utuh, setengah orang dan orang tak berarti. Orang utuh yaitu yang mempunyai pendapat benar juga mau bermusyawarah; sedang setengah orang yaitu yang mempunyai pendapat benar tetapi tidak mau bermusyawarah, atau turut bermusyawarah tetapi tidak mempunyai pendapat; dan orang yang tidak berarti adalah yang tidak mempunyai pendapat lagi pula tidak mau ikut musyawarah." Kepada Sufyan Ats-Tsuriy, Ja'far Ash-Shodik ra berkata: "Musyawarahkan urusanmu dengan orang-orang yang bertaqwa kepada Allah."

(Kitab Ta'limul Muta'alim)
0 komentar

Syuting...... Syuro Penting

Tadi pagi, buka FB kebetulan nemu tulisan tentang syuting alias syuro penting. Hehehe... istilah baru sepertinya. Dulu zaman masih di SKI belum ada istilah ini.
(http://www.kammi-uinsuka.com/2014/05/fenomena-afwan-para-aktivis-dakwah.html?m=1)

Baca tulisan itu, jadi ingat masa lalu dan masa kini. Dulu, mengajak tepat waktu itu luar biasa susah. Bahkan, saking ekstrem-nya upaya itu, beberapa kali rapat alias syuro' batal karena saya tunggu setengah jam tidak ada yang datang. :(

Kini, setelah di 'dunia nyata', istilah yang digunakan aktivis alumni kampus, hal ini juga berulang. Setidaknya, ada dua hal yang saya alami, syuro' sepi dan atau syuro' datang terlambat. Bahkan, sampai seorang teman yang rajin datang berkata, "besok gak usah syuro-syuroan. Langsung eksekusi aja." Waduh....

Sebenarnya, seberapa penting sih syuro itu? Menurut saya sih sangat penting. Itu menurut saya, lho... Ini bercermin pada kepemimpinan Rasulullah Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam. Beliau yang dijamin maksum saja masih berembug, syoro, alias rapat dengan para sahabat. Beliau masih meminta pendapat kepada para sahabat. Kalau mau, sah-sah saja beliau ambil keputusan sendiri. Saya yakin, saat itu para sahabat akan ta'at pada apa pun yang beliau katakan. Namun, beliau yang sudah begitu pun masih saja minta pendapat sahabat. Lalu, bagaimana sikap sahabat saat ini? Apakah monat-manut saja? Diam saja dan sendhiko dawuh? Sekadar mendengarkan arahan? Ternyata tidak!!

Saat di syuro itu para sahabat mengungkapkan pendapatnya. Bahkan, andai pendapat itu beda dengan Rasulullah sekali pun. Mereka berpendapat dan berargumen. Mengusulkan dan memberikan alasan. Saya bayangkan saat itu syuro-nya hidup sekali. Rapat-nya benar-benar berisi. Semua serius memikirkan solusi.

Namun... saat diputuskan, semuanya mematuhi keputusan. Itulah adab yang saya kenal tentang syuro. Saat diputuskan semua wajib mematuhinya. Tidak boleh ada syuro di luar syuro. Tidak boleh ada pembelotan dari hasil yang disepakati. Keputusan syuro hanya bisa dibatalkan oleh syuro yang lebih tinggi atau syuro lainnya.

Kalau orang bilang, gagal merencanakan berarti merencanakan kegagalan, lha apa lagi kalau tidak direncanakan. Sekali lagi, kita bercermin dari kepemimpinan Rasulullah. Beliau selalu membuat perencanaan matang. Rencanakan, persiapkan, laksanakan, lalu tawakkal. Lha wong hajatan manten saja ada kepanitiaan. Tujuh belasan juga ada rapat panitia. Mosok untuk organisasi formal tidak ada perencanaan. Tapi, semua memang tergantung seberapa besar kita memandang pentingnya hal itu. Semakin penting, semakin diprioritaskan. Wallahu a'lam.

Sekian...... #uneg-uneg #selfreminder
Senin, 05 Mei 2014 0 komentar

Izin atau Pemberitahuan???

Sore itu kami berkumpul di kantor yang menjadi tempat 'nongkrong' sekaligus membahas berbagai hal terkait organisasi. Tiba-tiba hape berbunyi. Setelah diangkat, terdengar suara yang tak jelas, sepertinya sedang di jalan, "Mas, maaf, saya gak bisa datang, izin, ya....". Putus, sepertinya sinyal memang sedang kurang bersahabat.

Hmm... penyakit nih. Izin tapi pas acara sudah mulai. Memang sore itu kami janjian untuk mengadakan pertemuan. Eh, padahal aku juga anggota biasa, sama seperti yang izin. Hehehe... harusnya kan izin itu kepada ketua alias pemimpin rapat.

Jadi ingat perkataan sang tetua tempo hari, kita harus bedakan antara izin dan pemberitahuan. Izin itu harus sebelum acara dimulai dan perlu mendapatkan izin. Jadi, kalau tidak diizinkan artinya harus datang. Kalau pemberitahuan, ya sekadar membertahukan. Mau diizinkan atau tidak, tetap tidak datang.

Hehehe... harus mulai berbenah. Mengatur agenda, prioritaskan agenda, dan taat aturan. Jangan sampai semua keteteran dan berantakan. Salah atur agenda, salah prioritas, semuanya bisa kacau. Semoga hari esok lebih baik.... #selfreminder

Diposkan juga di: www.maswit.com 
 
;